Ratu Evelien's Blog

What is IDEO?

Posted on: October 18, 2009

Hellow again bloops:)

Now, i’ll tell you about the biggest design company, IDEO

 

IDEO

IDEO

 

 

Mungkin ada yg udh pernah denger, apa itu IDEO.

IDEO adalah salah satu perusahaan design yang berpusat di Silicon Valley. Mungkin bloops ga begitu sering denger tentang ideo, tapi kalo kalian tau produk2 yang udh dibuatnya, pasti mulai ngerti kenapa IDEO dibilang sbg perusahaan paling innovative.

IDEO telah melahirkan lebih dari 4000 produk yang tentunya kreatif, such as Apple Mouse, Kacamata Nike, etc. Selain itu, mereka juga mendesign produk-produk lain mulai dari komputer jinjing sampai gitar mainan, dari alat kesehatan sebesar mobil sampai sikat gigi untuk anak-anak, dan dari sistem mekanik ikan paus dalam film Free Willy sampai botol minuman di sepeda. Mereka juga mendesain interior kereta api cepat Acela dari Amtrak dan tabung pasta gigi yang bisa berdiri, Neat Squeeze dari Crest.

IDEO product 

Dalam membuat design, IDEO turun ke jalanan dan berusaha mengamati keadaan di sekitar mereka, dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Mereka melihat segla sesuatu dengan memaksimalkan fungsi panca indra dan melahirkan produk2 yang kreatif.

Kreasi terbaru Ideo adalah toko flagship rumah mode Prada di New York. Menggabungkan keahlian di bidang teknologi informasi dengan desain lingkungan, gerai utama kampiun industri mode yang mereka desain ini menjanjikan pengalaman berbelanja yang unik. Selain itu, yang kini masih dalam penggarapan adalah proyek perancangan ulang Memorial Hospital di South Bend, Indiana.

 

FLAGSHIP PRADA STORE

FLAGSHIP PRADA STORE

Terdapat beberapa langkah yang dianut IDEO. Langkah awal, sebelum menciptakan desain baru, IDEO selalu  mencoba memahami konteks produk atau jasa yang ingin dikembangkan; dari teknologi yang relevan, lingkungan persaingan, potensi segmen pasar, sampai tekanan yang mendorong perubahan di area tempat produk atau jasa tersebut akan diluncurkan.

Langkah kedua adalah observasi. Tim Ideo mencoba memahami kebutuhan orang-orang yang mungkin memanfaatkan produk atau jasa apa pun yang dihasilkan oleh kerja kreatif mereka. Sebab itu, dalam observasi yang antara lain menggunakan metode konvensional seperti focus groups, tak hanya aktivitas yang terkait langsung dengan desain yang akan dikembangkan, mereka juga berupaya menangkap sesuatu yang lebih luas: Apa reaksi orang-orang terhadap desain tersebut, apa yang biasa orang-orang itu lakukan sebelumnya, dan apa yang penting buat mereka.

Pada langkah ketiga, visualisasi dan prediksi, perhatian tim desain mulai diarahkan pada objek atau sistem yang sedang dirancang. Untuk itu, diterapkan teknik-teknik brainstorming, pembuatan sketsa, pengembangan prototipe, simulasi, dan analisis desain secara berganti-ganti. Pada langkah ini perhatian tetap fokus pada pengguna. Untuk mendapatkan gambaran mendetail dari desain, dikembangkan storyboard atau skenario terperinci tentang seseorang yang menggunakan peralatan yang sedang dirancang.

Langkah keempat, evaluasi dan penyempurnaan, diayun setelah struktur dasar desain diperoleh. Pada langkah ini, dimasukkan rincian desain lalu dilakukan uji pada level yang beragam terhadap pengguna untuk mendapatkan umpan balik. Berdasarkan umpan balik yang didapat, tim Ideo melakukan siklus yang berulang-ulang – analisis, observasi, pembuatan sketsa, dan pembuatan prototipe – sehingga terjadi spiral penyempurnaan hasil pengembangan. Pada langkah ini, aspek interdisiplin yang lintas fungsi memegang peran penting.

Pada implementasi yang merupakan langkah puncak, tim desainer Ideo memfokuskan perhatian pada aspek pragmatis dari pembuatan obyek yang didesain: biaya, manufakturabilitas, durabilitas, kendali mutu, pemeliharaan, dan sebagainya. Tujuan menggunakan tim yang lintas fungsi di seluruh proses yang ada dimaksudkan untuk memastikan agar pertimbangan pragmatis ini tak terabaikan pada langkah-langkah sebelumnya. Maklum, pertimbangan faktor biaya dan sebagainya itu tak mungkin dimasukkan begitu saja di tahap terakhir. Kalau proses desain berjalan bagus, implementasinya tak akan menemui hambatan yang berarti. Namun, bukan tak mungkin modifikasi rincian desain masih diperlukan.

Ideo tak pernah mengikuti metodologi itu secara mekanis. Di lapangan, bisa saja mereka menggunakan versi berbeda – hanya tiga langkah, empat langkah atau, mungkin juga, 7 langkah dengan urutan berbeda. Ini wajar, karena metodologi desain bukanlah resep yang mesti diikuti secara persis melainkan sesuatu yang membuat kita bisa bekerja secara terstruktur berdasarkan seperangkat titik referensi. Proses yang terstruktur dapat digunakan sebagai semacam refleksi diri untuk membuat proses desain yang sedang berjalan terlihat jelas, juga buat menata ulang dan menyempurnakan proses tersebut secara terus-menerus sebagai bagian integral pengembangan desain.

Jurus yang dikembangkan Ideo untuk menghasilkan produk baru ini – open-eyed, open-ended process – sekarang telah mereka gunakan untuk segala macam aktivitas desain, dari menata ulang penempatan sign di suatu toko, menata tempat duduk di pesawat terbang, sampai menata bagaimana perusahaan memperlakukan pelanggan dan pemasoknya. Dengan jurus sapu jagat ini, Ideo telah menerabas batas perbedaan tradisional antara desainer, arsitek, dan konsultan strategi bisnis.

Oke, sekian post hari ini…see you bloops!!

Happy midterm test for everyone!

*toodles

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Archives :)

My Tweety

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: